Buaksib.com-  Kerusuhan antar pendukung tim kembali terjadi, kali ini terjadi saat PSIM Yogyakarta bertemu Persis Solo pada Senin (21/10/2019). Situasi panas sudah mulai terlihat saat kedudukan sama kuat 1-1, yang menjadi puncak adalah saat salah satu pemain Persis. Sulthon mencoba mengulur waktu untuk keunggulan timnya. Saat itu Persis unggul 2-3 atas PSIM.

Wartawan menjadi korban dari kericuhan PSIM VS PERSIS
Kericuhan antara suporter Persis Solo dan PSIM

 

Sulthon pun mendapat tendangan dari pemain PSIM , Achmad Hisyam Tolle yang sudah dikeluarkan wasit karena mendapat kartu merah. Ia berlari dan melesatkan tendangan ke arah Sulthon.

Puncaknya terjadi saat pertandingan memasuki perpanjangan waktu. Pendukung PSIM turun, memadati dan mengejar para pemain Persis.

“Mereka yang rusuh memanfaatkan apa saja yang ada. Bambu, batu, botol, buat nyerang. Pemain-pemain lalu lari ngamanin diri. Polisi juga bergegas menanggapi, tapi emang dasare sudah kalah jumlah dari suporter,” terang Dani (27), salah seorang suporter saat dikonfirmasi reporter Tirto, Selasa (22/10/2019) pagi.

Akibatnya, tidak hanya pemain yang terkena amukan dari suporter tim tamu. Tapi para staf kepelatihan juga menjadi korban.

“Enggak hapal siapa yang kena, pemain Persis soalnya. Tapi emang chaos banget situasinya,” lanjut dia.

Kerusuhan ini mengular hingga ke luar stadion. Polisi yang mengamankan pun sampai melepaskan tembakan gas air mata. Tapi hal itu tidak meredakan kericuhan, mereka semakin bringas melawan pihak kepolisian.

Kekalahan PSIM Jadi Awal Mula Kericuhan

“Satu [mobil] dibakar, satu dirusak. Awalnya PSIM kan kalah, nah atas dasar itu penonton kecewa [dan rusuh],” tutur Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Araini.

Dari jauh-jauh hari pihak kepolisian sudah melarang suporter Persis datang mendukung timnya di Jogja. Akan tetapi himbauan ini tidak diindahkan oleh semua pendukung Persis.

Polres Klaten juga membantu mengamakan agar pendukung Persis tidak berangkat ke Jogja. Mereka melakukan razia di jalan penghubung solo ke Yogyakarta.

Tetapi walaupun sudah melakukan hal preventif, tetap saja ada pendukung Persis yang berangkat ke Jogja dengan nekat melalui jalan tikus. Sedangkan yang melewati jalan utama/kota di berhentikan di Prambanan.

Karena sudah terpancing dan emosi, pendukung PSIM lalu melakukan sweping   plat nomor AD di Prambanan.

Bentrokan terjadi yang letaknya tak jauh dari candi kata Fandy yang melihat bentrokan terjadi.

“Kedua kubu sempat bentrok di depan Indomaret Prambanan, selebihnya efek yang paling terasa kemacetan. Lalu lintas terhambat karena kejadian ini,” keluhnya.

Kerusuhan Terjadi pada Jam Pulang Kerja

“Kejadian kayak gini setiap tahun berulang. Masyarakat non-suporter yang enggak tahu apa-apa juga jadi ikut ketakutan,” tambahnya.

Tidak hanya merugikan kepolisian, warga, dan tim tamu. Wartawan yang meliput dan berada dilokasi juga ikut menjadi amukan suporter PSIM.

Salah satu wartawan Goal Indonesia, Budi Cahyono diintimidasi untuk segera menghapus tendangan yang diarahkan ke Sulthon. Intimidasi itu dilakukan oleh pemain PSIM Ahmad Hisyam Tolle.

“Kamera memang sempat diambil sama Tolle, namun saya bilang ke dia, jangan di sini (pinggir lapangan) hapus fotonya karena biar lebih aman lantaran kondisi sudah rusuh di dalam lapangan,” tutur Budi seperti dilansir Goal Indonesia.

Perlakuan lebih kasar di terima oleh Guntur, jurnalis Jawa Pos Radar Jogja. Ia mendapat perlakuan fisik oleh suporter. Padahal ia sudah menggunakan pakain lengkap sebagai jurnalis.

“Sewaktu suasana chaos, saya lihat di pojokan antara tribun barat dan utara ada petugas damkar (pemadam kebakaran) mau evakuasi anak-anak, niat mau memotret evakuasinya. Tapi setelah motret, saya didatangi beberapa suporter, lalu dicekik dari belakang dan dipukul ramai-ramai,” terang Guntur saat dikonfirmasi Selasa (22/10/2019) pagi.

Ia dilepaskan setelah menghapus seluruh dokumentasi pada pertandingan itu.

Dari apa yang ia terima, ini merupakan pelanggaran terhadap media dengan melanggar UU NO 40 Th 99 tentang pers dan kode etik jurnalistik. Ia berharap tidak ada kejadian semcam ini lagio.

“Kalau pesan ke suporter-suporter yang rusuh, dari saya, mungkin enggak terlalu besar. Toh enggak bakal ngefek juga, leluconnya kan gitu. Paling yang ada harapan saja, jangan sampai ada korban yang mengalami seperti saya,” tandasnya.