Buaksib.com – Presiden Federasi Sepakbola Italia, (FIGC) Gabriele Gravina, menjamin jika kompetisi Serie A tak akan dibatalkan selama dia masih menjabat

Kompetisi di Italia Terancam Ditunda Satu Bulan Karena Corona
Serie A.

. Gravina sangat paham jika menutup musim lebih cepat bisa mematikan sepak bola Italia.

 

 

Serie A musim ini sendiri sudah dihentikans ejak Maret 2020 lalu karena merebaknya virus Corona di Italia. Kondisi tersebut membuat kondisi disana cukup terpuruk dan tidak ada yang tahu kapan kompetisi akan Kembali dilanjutkan.

Selain itu, masih belum ada kejelasan kapan musim akan Kembali digelar. Sejak awal, UEFA sudah memaksa setiap penyelenggara liga untuk berusaha menyelesaikan musim ini, entah apapun caranya.

Meski demikian, sudah ada beberapa liga yang sudah resmi dihentikan. Maka dari itu, muncul kekhawatiran jika Serie A akan dihentikan permanen. Akan tetapi, Gravina dengan tegas membantah hal tersebut.

Gravina sendiri mengetahui isu-isu tersebut mulai mengganggu ketenangan klub peserta Serie A dan lainnya. Akan tetapi, sebagai presiden sepak bola Italia, dia tegas mengatakan jika tak akan ada penghentian musim premature kali ini.

“Selama saya masih jadi presiden FIGC, saya tidak akan pernah menyetujui penghentian musim sepenuhnya, karena itu bakal jadi kematian untuk sepak bola Italia,” jelas Gravina dikutip dari Goal internasional.

“Saya menjaga kepentingan banyak orang, jadi saya ulangi sekali lagi, saya menolak menyetujui penutupan musim sepenuhnya, kecuali ada kondisi objektif tentang kesehatan semua orang yang terlibat.”

“Namun, untuk itu saya harus diberi tahu dengan jelas, dan harus ada yang menghentikan saya terus bergerak maju,” tambahnya.

Kerugian Besar bagi Serie A

Kematian sepak bola di Italia yang dimaksud oleh sang presiden yaitu hubungannya dengan masalah keuangan. Serie A sendiri bukanlah liga yang kaya, banyak juga klub yang mengandalkan investor asing dan iklan. Jika saja dihentikan secara prematur, maka sepak bola Italia akan mati.

“Dengan penghentian total, Serie A bakal merugi sebesar 700-800 juta euro. Jika dilanjutkan bermain tanpa penonton, kerugiannya ada di angka 300 juta euro. Dan jika dimulai kembali dengan penonton, kerugian bakal mencapai 100-150 juta euro,” sambung Gravina.

“Kami punya tanggung jawab kontrak terhadap partner-partner dan institusi internasional, seperti UEFA dan FIFA,” tutupnya.