Buaksib.com – Klub asal Jerman, RB Leipzig belakangan tengah mencuri perhatian karena performa mereka yang begitu impresif. Mengenai hal ini, mantan pelatih mereka, Ralf Rangnick juga percaya bahwa mantan timnya tersebut punya sesuatu yang spesial. Menurut pria 62 tahun, Leipzig punya cara pandang yang berbeda dari klub-klub Eropa kebanyakan.

Menurut mantan pelatih RB Leipzig, Ralf Rangnick klub punya cara pandang yang berbeda dari klub-klub Eropa kebanyakan
Mantan pelatih RB Leipzig, Ralf Rangnick

Keistimewaan RB Leipzig

Banyak orang mungkin tercengang melihat performa klub asal Jerman, RB Leipzig, terutama sepanjang musim ini. Bagaimana tidak, tim ini tak memiliki nama bintang dengan harga mahal dalam skuadnya. Namun, mereka berhasil finish di urutan ke-3 Bundesliga, dan sukses melaju ke semifinal Liga Champions musim 2019/2020.

Mengenai kesuksesan klub asal Saxony ini, beberapa orang ikut berkomentar, tak terkecuali mantan manajer dan direktur olahraga mereka, Ralf Rangnick. Rangnick mengatakan bahwa Leipzig lebih suka mendatangkan pemain muda dan melatih mereka untuk menjadi bintang. Inilah yang menurutnya membuat Die Roten Bullen istimewa jika dibanding klub-klub lain.

“Saya pikir, kau bisa mengatakan bahwa Leipzig adalah klub yang istimewa.” Kata Rangnick. “Kami (Leipzig) hanya punya ketertarikan yang besar untuk mendatangkan para pemain yang berusia antara 17, 20 ataupun 22 tahun. Menurut kami, kami bisa melatih mereka, dan kami selalu menjadi tim termuda di seluruh liga yang kami ikuti.”

Rangnick juga menuturkan bahwa mendatangkan para pemain muda dapat membuat Leipzig mengetahui terlebih dahulu bakat mereka, sebelum diketahui klub-klub lain. “Ketika kau memilih pemain di usia seperti itu, kuatnya kebersamaan mereka akan penting bagi klub. Beberapa klub melihat itu sebagai resiko, tapi kami bisa melihat bakat mereka sejak dini.”

Jika meruntut sejarahnya, Leipzig memang sempat beberapa kali membeli pemain yang sebelumnya tak dikenal untuk kemudian menerbitkan mereka menjadi bintang. Kiper utama mereka, Péter Gulácsi contohnya. Sebelum memperkuat tim ini, Gulácsi adalah kiper yang kurang bersinar bersama klub asal Inggris, Liverpool.

Pada tahun 2008 hingga tahun 2013, kiper berpaspor Hungaria memperkuat klub asal Merseyside ini dan tak pernah sekalipun dimainkan. Setelah menjalani peminjaman ke beberapa klub dan bergabung dengan Salzburg, Gulácsi diboyong Leipzig asuhan Rangnick. Sekarang, ia menjadi palang pintu pertahanan terakhir di bawah asuhan Julian Nagelsmann.

Umur Bukan Tolok Ukur Utama

Menurut Rangnick, bukan umur yang menjadi faktor utama Leipzig dalam mencari pemain. Setiap pemain yang dicari tim ini adalah tim yang cocok dalam gaya bermain mereka. Jika seorang pemain memiliki gaya main yang tak cocok dengan Leipzig, maka mereka tak akan pernah direkrut.

“Kami punya cara yang spesifik dalam mencari pemain untuk klub, sebuah filosofi yang sudah jelas, dan itu tak pernah berubah.” Papar Rangnick. “Ini hanya soal transisi. Kami melatih pemain kami untuk merebut bola dan membawanya dengan cepat ke depan lagi. Itu terdengar sederhana, tapi itu semua tergantung kecepatanmu mengubah arah bola.”

“Tiga pelatih terakhir kami memiliki gaya melatih yang berbeda. Saya, Ralph Hasenhüttl dan Julian Nagelsmann adalah orang yang berbeda. Tapi, DNA sepakbola yang kami miliki sebenarnya sama. Kami di sini untuk melatih dan merawat mereka, dan sebagai direktur olahraga atau pelatih, pintu kami selalu terbuka untuk mereka.”