Buaksib.comTragedi Kanjuruhan membuat trauma yang mendalam untuk banyak pihak, tak terkecuali para pemain Arema FC. Bahkan, hingga saat ini, para pemain Arema masih belum siap jika harus bermain sepak bola lagi.

 

ARMY Indonesia Ikut Galang Dana untuk Korban Kanjuruhan

 

Tragedi Kanjuruhan yang terjadi ini tak pernah diduga oleh siapapun. Terlebih, tidak ada satupun Bonek (fans Persebaya) yang datang di derbi Jawa Timur itu. Pertandingan sendiri berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan tim tamu.

Kobran meninggal di akhir laga Arema FC vs Persebaya Surabaya mencapai angka 130 orang. Jumlah tersebut berdasar dari data Pemerintah Kabupaten Malang. Selain itu, masih ada juga ratusan korban yang mengalami luka-luka. Hingga saat ini, masih ada korban yang dirawat di rumah sakit.

Moratorium sepak bola di Indonesia menjadi kesempatan untuk membersihkan diri dari semua hal buruk yang selama ini ada. Akan tetapi, akan semua masyarakat bisa menikmati sepak bola yang menyenangkan?

Pemain Arema FC Trauma

Penggawa Singo Edan sudah pasti ingat bagaimana peristiwa yang mengerikan itu terjadi. Mereka sepertinya mungkin masih terus berandai-andai dan mungkin menyalahkan diri karena gagal meraih kemenangan dari sang rival.

Abel Camara yang sebenarnya sudah mendapatkan ketajamannya lagi benar-benar kalut setelah laga berakhir. Kenapa tidak, dia melihat langsung supporter yang mengidolakan mereka harus meninggal di depan matanya.

Pelatih Arema FC, Javier Roca, bahkan memberikan statement yang lebih menyedihkan. Setelah dia menghadiri konferensi pers, dia mendapati salah satu korban meninggal saat sedang berada dipelukan pemain.

Bersama manajer Ali Rifki, para pemain membaur Bersama Aremania untuk menyelamatkan saudara mereka. Namun sayang, tidak semua bisa selamat dari tragedi kemanusiaan ini.

Rasa trauma yang mendalam sangat dirasakan oleh pemain Arema, hal ini harus diperhatikan. Kejadian mengerikan ini akan terus terngiang di kepala mereka sepanjang masa hidupnya.

“Kami membuat suatu statement agar ditunda sampai ada evaluasi kepastian sepak bola berjalan dengan aman. Ini bukan hanya karena simpati dan empati dari pemain lain tetapi juga karena psikologis terutama pemain Arema,” ucap Muhammad Hardika Aji, CEO APPI dalam program Mata Najwa.

“Tidak mungkin dalam satu minggu, pemain Arema FC sembuh (secara psikologis). Bagaimana bisa mereka melihat kembali tribun, stadion, rumput dan locker room, disaat mereka melihat jenazah saat itu,” serunya.