Buaksib.com – Siapa yang menyangka, pelatih Bayern Munchen saat ini, Hansi Flick dapat meraih kesuksesan di musim pertama menangani Die Roten. Sebelum ini, Flick sepertinya bukan siapa-siapa dan terdengar asing di telinga para pecinta sepakbola. Namun, pria 55 tahun mampu membuktikan bahwa dari seorang yang tak dikenal, ia bisa jadi pahlawan timnya.

Pelatih Bayern Munchen, Hansi Flick mampu membuktikan bahwa dirinya dari seorang yang tak dikenal, hingga bisa jadi pahlawan timnya
Hansi Flick

Sosok yang Spesial

Dengan raihan dua gelar juara domestik, Bundesliga dan DFB-Pokal, era kejayaan Bayern Munchen di Eropa sepertinya sudah kembali dimulai. Dan semua itu tak lepas dari peran besar sang pelatih, Hansi Flick. Menggantikan pelatih sebelumnya, Niko Kovač, Flick berhasil buktikan bahwa dirinya layak dan bisa membawa Bayern kembali berjaya.

Flick diketahui mengambil alih kursi kepelatihan Bayern pada bulan November lalu, menyusul kekalahan Die Roten atas Eintracht Frankfurt dengan skor 5-1. Menelan kekalahan terbesar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Bayern sempat turun ke urutan ke-7. Namun, kedatangan Flick sepertinya sudah mengubah segalanya.

Melatih klub sekelas Bayern tentu menjadi pekerjaan impian setiap pelatih di Jerman, mengingat klub ini punya hampir segala fasilitas yang dibutuhkan. Namun, sepanjang sedekade ke belakang, Bayern bisa dibilang cukup gagal dalam merekrut pelatih. Bahkan, seorang pelatih dengan reputasi tinggi sekelas Carlo Ancelotti pun dipecat sebelum genap melatih selama dua musim.

Salah satu alasan mengapa Bayern memilih Flick mungkin adalah karena kepribadiannya. Pada awalnya, Flick mungkin hanya ditunjuk sebagai pelatih pengganti sementara Niko Kovač. Namun, ia memiliki semangat yang lebih. Ia adalah pelatih yang penuh ambisi, serta sangat membenci kekalahan, namun di samping itu, ia juga tetap baik pada para pemainnya.

Pengalaman Jadi Kunci Kesuksesan Hansi Flick

Mungkin, saat ini, Flick sudah dikenal oleh para pecinta sepakbola dunia. Namun, dahulu, ia nyatanya memang bukan siapa-siapa. Bahkan, dulu, karirnya mungkin sudah berakhir jika ia memutuskan untuk menyerah. Pada periode tahun 2000 hingga 2005, Flick diketahui pernah menangani TSG Hoffenheim.

Ketika menjadi pelatih, Hoffenheim masih bermain di kasta ke-3 kompetisi sepakbola Jerman. Di musim terakhirnya menjadi pelatih, Flick gagal membawa Die Kraichgauer promosi ke kasta yang lebih tinggi. Alhasil, ia pun dipecat oleh dewan klub. Waktu itu, Flick yang masih minim pengalaman mungkin akan benar-benar menghilang dari dunia sepakbola, jika ia menyerah.

Namun, nasib berkata lain. Setelah menjadi asisten pelatih Salzburg bersama pelatih Giovanni Trapattoni, pengalamannya semakin terasah. Sejak 2006 hingga 2014, ia ditunjuk sebagai asisten Joachim Löw di timnas Jerman. Selama delapan tahun menjadi asisten Löw, Flick belajar banyak bagaimana cara menangani para pemain.

Di awal kedatangannya ke Bayern, Flick sepertinya menyadari bahwa para pemain tak begitu menyukai taktik yang diterapkan Niko Kovač. Karenanya, ia mencoba membangun ulang periode kesuksesan Bayern pada musim 2012/2013. Di musim itu, Bayern dikenal punya taktik pressing yang ketat dan memiliki pertahanan yang sangat sulit untuk ditembus.

Wibawa Flick serta gaya melatihnya sering dikatakan mirip dengan pelatih Bayern di era kejayaan mereka pada 2013 silam, Jupp Heynckes. Yang membedakan hanya raihan gelar yang pernah mereka dapat sebelum menukangi Bayern. Kini tinggal bagaimana caranya Flick bisa menyamai pencapaian pendahulunya tersebut.