Buaksib.com – Penyerang Manchester City, Gabriel Jesus, nampaknya masih belum menjadi pilihan utama bagi pelatih The Citizens, Pep Guardiola. Pelatih asal Spanyol tersebut lebih sering memainkan Sergio Aguero sebagai ujung tombak City.

Gabriel Jesus Gerah Selalu Jadi Pilihan Kedua
Selebrasi gol Gabriel Jesus

 

Di musim ini, Gabriel Jesus sudah terlibat dalam enam pertandingan yang dilakoni Manchester City. Namun, pemain berusia 22 tahun tersebut lebih sering memulai laga dari bangku cadangan untuk menggantikan Aguero. Tercatat, ia hanya dua kali dipercaya sebagai starter oleh sang pelatih. Menit bermainnya pun terbatas pada musim kemarin. Di Premier League 2018/2019, Gabriel Jesus hanya delapan kali dipasang sebagai starter dari 29 pertandingan.

Sejak kedatangannya ke Etihad Stadium, mungkin ia sudah mengetahui bahwa menggeser sosok Segio Aguero dari lini depan Manchester City bukanlah hal yang mudah. Meski sudah berumur 31 tahun, pemain asal Argentina tersebut masih tetap tajam di depan gawang lawan.

Gabriel Jesus Ingin Jadi Pilihan Utama

Sebagai seorang pemain, duduk di bangku cadangan bukanlah hal yang diinginkan. Mereka selalu ingin mendapatkan kesempatan bermain untuk membuktikan kemampuannya. Gabriel Jesus bukanlah ‘anak baru’ di skuat Manchester City. Ia sudah bergabung dengan The Citizens sejak Januari 2017 lalu. Namun, pemain Timnas Brasil tersebut masih sering menonton rekan setimnya bermain dari sisi lapangan.

“Saya sudah melewati fase ‘saya harus menunggu’. Saya telah berada di sini hampir tiga tahun, ini adalah musim keempat saya, dan itu membuat saya ingin bermain lebih sering,” tutur Gabriel Jesus kepada Esporte Interativo.

“Sudah jelas sulit bersaing untuk mendapatkan tempat dengan Aguero, legenda terbesar klub ini. Saya paham keputusan Pep dan menghormati Aguero, sejarahnya di sini dan apa yang ia lakukan saat ini,” lanjutnya.

Gabriel Jesus pun membagikan pengalamannya ketika ia merasa begitu frustasi saat dicadangkan pada laga melawan Tottenham di perempat final Liga Champions musim lalu. Apalagi, Manchester City harus rela tersingkir dan mengubur impian mereka meraih trofi Liga Champions pertama mereka.

“Secara personal, musim lalu rasanya sangat berat. Saya tidak mendapat kesempatan bermain yang banyak di laga-laga penting,” ungkap Gabriel.

“Saya ingat laga kandang kontra Tottenham di Liga Champions. Pada saat itu saya sangat frustasi karena tidak bermain, dan tentu saja, City tersingkir,” tandasnya.

Pengalaman pahit tersebut sedikit terobat karena pada musim lalu, Manchester City sukses di kompetisi domestik. Skuat asuhan Pep Guardiola berhasil memborong tiga trofi domestik, yaitu Premier League, Carabao Cup, dan FA Cup.