Buaksib.com – Pemecatan Helmy Yahya selaku sosok yang menjabat Direktur Utama TVRI terkait hak siar Liga Premier ternyata berbuntut Panjang. Masalah ini kini sedang ramai dibicarakan oleh publik tanah air. Apalagi, setelah Helmy menyinggung soal perbandingan harga Liga Indonesia dan Liga Inggris tersebut.

Benarkah Liga Indonesia Lebih Mahal dari Liga Premier?
Helmy Yahya, Dirut TVRI yang dipecat.

 

Perbandingan harga tersebut adalah salah satu poin utama dari pemecatan Helmy Yahya. Dewan Pengawas TVRI mengatakan jika pengeluaran untuk menayangkan Liga Premier diluar batas kewajaran. Akan tetapi, Helmy mengelak jika Liga Inggris jauh lebih murah bahkan hingga lima kali lipat daripada Liga Indonesia (Liga 1).

“Kalau ada yang bertanya kenapa tidak beli Liga Indonesia? Liga Indonesia harganya empat kali lipat, lima kali lipat dari Liga Inggris. Saya katakan rezeki anak saleh mendapatkan kepercayaan menayangkan Liga Inggris dengan harga yang sangat murah. Saya buka saja, harganya cuma 3 juta dolar Amerika. Sebanyak US$1 juta itu komitmen diambil iklannya. Jadi, kami hanya bayar US$2 juta (sekitar Rp27 miliar). Kami hitung-hitung per episode atau per jamnya hanya Rp130 juta,” kata Helmy dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) di ruang rapat Komisi I DPR.

Lalu, apakah benar jika hak siar Liga Inggris lebih murah daripada Liga Indonesia?

Harga Liga Premier Menurut Reva Dey Utama

Menurut Reva, selaku pengelola kompetisi Liga Indonesia, harga hak siar Liga Premier tetap lebih mahal daripada Liga Indonesia. Jika dilihat head-to-head per musim, menurutnya, harga penayangan Liga Inggris untuk wilayah Indonesia mencapai 40 juta dollar, atau sekitar 545 miliar rupiah untuk 380 pertandingan. Sedangkan untuk Liga 1, hanya berkisar diangka 13 juta dollar, atau sekitar 177 miliar untuk 306 pertandingan.

“Dalam kasus TVRI, hitungan Liga Inggris bisa lebih murah karena mereka beli ke Mola TV. Hanya satu pertandingan sepekan dan hanya satu rights free to air (FTA). Itu pun bukan laga yang super big match. Mungkin jenis rights-nya sekali tayang alias tidak boleh rerun.”

“Bisa jadi juga dapat harga diskon karena Mola TV mungkin butuh TVRI agar terhindar dari gosip monopoli. Itu suka dipermasalahkan. Padahal, tidak ada kaitannya soal monopoli itu dalam jual-beli program TV. Jadi, Liga Inggris hitungannya paling mahal,” jelas Reva.

Jika mengatakan jika liga lokal lebih mahal juga sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Sebab, Liga 1 ternyata lebih mahal daripada hak siar Bundesliga Jerman. Reva mengungkapkan jika harga Bundesliga Jerman hanya 3,5 juta dollar atau sekitar 47 miliar.

Diluar liga tersebut, harga termahal untuk memiliki hak siar adalah tayang Piala Dunia 2022. Piala Dunia 2022 mematok harga sekitar 80 juta dollar atau sekitar 1 triliun rupiah untuk 65 pertandingan dengan paket Piala Konfederasi, Piala Dunia U-17, dan Piala Dunia U-20.

Kemudian, jika ingin memukul harga per musim dibagi jumlah pertandingan, maka Liga Premier akan Jauh lebih mahal daripada Liga 1.

Rinciannya adalah 545 miliar dibagi 380 pertandingan Liga Inggris berarti setiap pertandingan punya harga sekitar 1,5 miliar rupiah. Sedangkan untuk Liga 1, harganya sekitar 578 juta per pertandingan jika menghitung 177 miliar rupiah dibagi 306 pertandingan.