Buaksib.com – General Manajer Arema FC, Ruddy Widodo buka suara terkait kondisi timnya ditengah wabah pandemi Corona yang tengah melanda seluruh dunia. Dia mengatakan jika Singo Edan membutuhkan waktu untuk bisa bangkit Kembali.

Arema FC Masih Tunggu Kepastian PSSI dan PT LIB
Ruddy Widodo, General Manajer Arema FC.

 

“Semua perlu proses. Kami pun perlu waktu untuk bisa bangkit kembali seperti sediakala,” ucap Ruddy.

“Mungkin, ketika sepak bola dimulai lagi, kami perlu waktu sekitar sebulan untuk waktu recovery,” lanjutnya.

Menurut sang manajer, berhentinya sepak bola di Indonesia sejak pertengahan Maret kemarin sangan menjadi masalah bagi Arema FC. Tak ada kompetisi, sang manajer melanjutkan, membuat klub sudah pasti kehilangan banyak pemasukan dari penjualan tiket.

“Tak hanya itu, segala kerja sama kami dengan pihak sponsor pun dipending. Subsidi dari operator juga mandek,” kata Ruddy.

“Kami juga menghentikan aktivitas toko resmi. Ini kan berarti otomatis klub tidak memiliki penghasilan selama kegiatan sepak bola ini mandek,” tambahnya.

Pada saat ini, kompetisi Shopee Liga 1 masih belum dilanjutkan. Hal ini tak lepas karena pandemi virus Corona yang masih mewabah di Indonesia.

PSSI sudah membuat kebijakan jika sejak Maret hingga Juni yang akan datang adalah status keadaan tertentu darurat bencana. Jika situasi darurat bencana tersebut tak diperpanjang oleh pemerintah, maka kompetisi akan Kembali dimulai 1 Juli.

Akan tetapi, jika pemerintah justru memperpanjang status darurat bencana, atau PSSI menganggap kondisi belum memungkinkan, maka kompetisi dihentikan permanen.

Dengan status tersebut, PSSI akhirnya membuat kebijakan terkait gaji pemain, pelatih, dan ofisial. Gaji yang akan mereka terima tak lebih besar dari 25 persen nominal kontrak mereka.

Arema FC Hanya Andalkan Pemilik

Kemudian, Ruddy mengatakan jika selama pandemi virus Corona ini, aspek industry sepakbola klub benar-benar mati. Bahkan, hanya untuk bisa membayar 25 persen gaji para pemain Arema, mereka juga mengandalkan sokongan dana dari pemilik.

“Untuk tim, dalam sebulan, owner harus mengeluarkan dana sebesar Rp 575 juta. Jadi, untuk empat bulan kompetisi mandek, mereka harus merogoh kocek sekitar Rp 2,3 miliar. Ini belum termasuk gaji karyawan dan biaya operasional kantor seperti listrik dan air,” jelas Ruddy.

“Nah, inilah yang membuat kami perlu waktu untuk bisa bangkit lagi seperti sediakala,” tutupnya.